Jakarta – Di sudut sebuah warung kopi di kawasan industri, beberapa buruh pabrik berkumpul melepas penat selepas sif malam. Hari ini, spanduk ucapan selamat HUT Bhayangkara ke-80 terpampang di sepanjang jalan protokol. Bagi para pekerja ini, ulang tahun kepolisian bukan sekadar seremonial potong tumpeng, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana hukum bekerja bagi mereka yang berada di kelas bawah.
Aktivis Buruh memanfaatkan momentum ini untuk menyuarakan kerinduan kolektif akan sosok polisi yang humanis. Selama bertahun-tahun, bayang-bayang gas air mata dan barikade kawat berduri kerap mewarnai ingatan kaum buruh setiap kali mereka turun ke jalan menuntut keadilan upah. Di usia Polri yang kini menginjak delapan dekade, ada harapan besar agar pendekatan keamanan yang represif diubah menjadi dialog yang merangkul.
“Kami tidak memusuhi polisi. Kami justru butuh mereka sebagai pelindung. Sayangnya, sering kali di lapangan, kami merasa diposisikan sebagai ancaman bagi investasi,” ungkap Joko warga yang juga aktivis buruh lokal, yang kerap menjadi korlap aksi buruh dari FSP LEM SPSI.
Ia menegaskan bahwa menempatkan hukum sebagai panglima tertinggi adalah harga mati. Ketika ada sengketa ketenagakerjaan, polisi diharapkan hadir sebagai penegak aturan yang objektif, bukan sebagai instrumen tekanan bagi pihak yang lemah. Sikap pro-buruh yang digaungkan bukan berarti membela yang salah, melainkan memastikan hak-hak wong cilik dilindungi sesuai undang-undang yang berlaku.
Hubungan antara iklim investasi dan perlindungan buruh ibarat dua sisi mata uang. Aktivis buruh percaya bahwa investasi yang berkelanjutan hanya bisa tumbuh di atas tanah yang menghormati hak asasi manusia. Polri memiliki peran krusial untuk menjaga keseimbangan ini. Dengan bertindak adil, kepolisian membantu menciptakan iklim usaha yang sehat sekaligus menjaga Kamtibmas tetap kondusif.
Harapan yang dititipkan pada HUT Bhayangkara ke-80 ini begitu sederhana namun mendalam: sebuah institusi kepolisian yang dicintai karena keadilannya, bukan ditakuti karena senjatanya. Kamtibmas yang sejati akan terwujud bukan karena bungkamnya protes, melainkan karena sejahteranya rakyat dan tegaknya keadilan yang humanis di seluruh pelosok negeri. (RA)





