JAKARTA – Memperingati Hari Lahir Pancasila, Direktur Kajian Lintas Generasi, Agung Wibowo, menegaskan bahwa Pancasila saat ini menghadapi tantangan serius, bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga dalam hal pemaknaan dan implementasinya di tengah masyarakat. Ia menilai, jika tidak dijaga dengan benar, Pancasila berisiko kehilangan fungsi utamanya sebagai perekat kebangsaan.
Agung menyoroti bahwa dalam sejarah politik Indonesia, khususnya pada masa rezim Soeharto, Pancasila pernah mengalami reduksi makna karena digunakan sebagai instrumen politik. Pada periode tersebut, penafsiran tunggal terhadap Pancasila dinilai membuka ruang bagi penggunaan ideologi negara untuk membatasi ruang kritik dan menguatkan kontrol kekuasaan.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bahwa ideologi negara tidak boleh dimonopoli oleh satu tafsir kekuasaan. Ketika Pancasila dipersempit menjadi alat legitimasi politik, maka nilai-nilai dasarnya sebagai konsensus kebangsaan justru berpotensi kehilangan substansi dan daya inklusifnya.
Agung menegaskan bahwa secara historis, Pancasila merupakan hasil konsensus para pendiri bangsa yang dirumuskan sebagai fondasi etika, moral, dan cara hidup bernegara. Ia menekankan bahwa setiap sila mengandung prinsip-prinsip dasar yang seharusnya menjadi pedoman dalam pengambilan kebijakan publik maupun perilaku sosial masyarakat.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa tantangan Pancasila di era modern tidak hanya datang dari perbedaan tafsir politik, tetapi juga dari meningkatnya potensi penyebaran paham radikalisme dan terorisme yang dapat menggerus semangat persatuan. Menurutnya, ancaman tersebut harus direspons secara serius dan sistematis, bukan sekadar sloganistik.
Di akhir pernyataannya, Agung mengimbau agar seluruh elemen bangsa kembali memperkuat komitmen terhadap Pancasila sebagai dasar negara yang hidup, bukan sekadar simbol formal. Ia menegaskan bahwa menjaga Pancasila berarti menjaga ruang kebersamaan, toleransi, dan keutuhan Indonesia dari berbagai upaya yang dapat merusak persatuan nasional. (/RA)











