Jakarta – Di tengah panasnya perdebatan publik soal energi geothermal, Aliansi Masyarakat Penolak Geothermal mengambil sikap berbeda: menegaskan pentingnya stabilitas nasional dan keterlibatan aktif masyarakat, khususnya generasi muda, sebagai fondasi utama keamanan dan ketertiban—syarat mutlak keberhasilan pembangunan.
Agustinus Dja’y, anggota aliansi, menekankan bahwa kondisi sosial yang dinamis menuntut respons kolektif, bukan sekadar kritik atau penolakan. “Kami menghimbau seluruh pemuda dan elemen masyarakat untuk bersinergi menjaga kondusivitas, demi terciptanya keamanan dan ketertiban,” ujarnya, menegaskan pesan penting aliansi di tengah polemik energi.
Selain fokus pada stabilitas, aliansi juga menyatakan dukungan terhadap agenda strategis pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Menurut Agustinus, keberhasilan program nasional tidak bisa dilepaskan dari partisipasi aktif masyarakat dalam mengawal implementasinya di lapangan.
Ia menambahkan, arah kebijakan pembangunan melalui Asta Cita menitikberatkan pada kepentingan masyarakat luas. Dukungan aliansi dipandang sebagai bentuk komitmen untuk memastikan program pemerintah berjalan efektif dan memberikan dampak nyata bagi rakyat.
Langkah ini menjadi sorotan karena datang dari kelompok yang selama ini kritis terhadap isu geothermal. Namun, sikap tersebut menegaskan adanya keseimbangan antara menyuarakan aspirasi dan menjaga stabilitas nasional, sebuah pesan penting di tengah kompleksitas pembangunan Indonesia.
Dengan pendekatan ini, Aliansi Masyarakat Penolak Geothermal ingin menunjukkan bahwa kritik yang konstruktif tidak harus memicu konflik, dan bahwa masyarakat dapat berperan aktif sebagai pengawal kebijakan nasional tanpa harus menanggalkan prinsip-prinsipnya. (/RA)











